Rabu, 31 Juli 2013

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Bangun tidur, sahur, trus tiba-tiba pingin nulis. monggo disimak bagi yang terdampar di blog ini.oh iya ceritanya pake aku dan Dia aja (atau sebut saja R) ya,, ga biasa gue-lu soalnya..
begini ceritanya...
Aku sekarang kuliah dah smester 8, aku suka sama seorang cwe sebut saja R sejak semester 1, waktu itu organisasi yang mempertmenukan kita, secara anak semester 1 kan lagi aktif-aktifnya hehe.. bla..bla..bla.. dan R pun sepertinya memiliki rasa yang sama seperti yang Aku rasain. Udah bener-bener deket dan nyaman banget sama Dia, kemana-mana kita bareng. Temen-temenpun mendukung. Kita pun kayak udah jadian aja.
Saking sayangnya sama R Aku pun mengurangi intensitas bergaul dengan teman-teman cewek lain apalagi sampe berdua, Aku hindarin banget, takut R cemburu atau gimana. Ya itung-itung menjaga hati hanya untuk R saja. Semester pertama kuliah betapa bahagianya ahti ini..
Hingga suatu hari (semester 2 kalo ga salah), biasanya Aku rajin banget ke sekre, bahkan sampe nginep-nginep segala (saking aktifnya hehe). Entah kenapa hari itu males ke sekre dan rada sorean baru main ke sekre. Ada yang aneh dengan temen-temen Aku, mereka seperti membisu dan menyembunyikan sesuatu dariku. Pertama sih tidak Aku pedulikan, wah ada clorot di meja (jajanan khas suatu daerah di jawa tengah). Aku makan saja satu demi satu sampe lumayan kenyang. Ahirnya satu temen duduk di sebelahku, Dia bilang “wei bro, itu jajanan kan si R yang bawain”..
“loh bukanya masih di kampung R?” kataku.
“tadi katanya baru datang, tadi R ke sini (sekre) sama pacarnya yang kuliah di kota *****” temenku bilang.
Gleekkk.. sesak nafas langkung, jantungpun lebih cepat berdetaknya daripada normalnya.. awalnya ga percaya, tapi temen-temen yang lain membenarkan ucapan temenku itu
Semenjak hari itu Aku jarang ke sekre, paling jika ada kepentingan atau rapat organisasi aja. Ya memenuhi tanggung jawab lah.
Mungkin karena bodoh atau ga beraninya Aku menanyakan tentang pacarnya R ini ahirnya hanya kudiamkan saja. Dan berpura-pura tidak tahu. Ya bodoh memang...
Waktu demi waktu berlalu, ketika sudah perganitan pengurus, R mulai menghilang dari sekre. Akupun yang sudah kadung tidak betah ikut menghilang juga dari sekre. Jujur waktu masih aktif hanya R satu-satunya yang buatku bisa tetep eksis di organiasasi.
Akupun diam-diam meski sakit berusaha melupakannya. No hape dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Aku hapus atau buang jauh-jauh. Meski saat ketemu di kamups biasa saja. Lha wong satu fakultas ya mau ga mau sering ketemu juga. Masalahnya adalah Aku tak bisa benar-benar melupakanya, ya mungkin karena faktor sering ketemu. Hanya saja sekarang Aku tak pernah menghubunginya lagi, secara udah gak punya no hapenya. Ga tau Dia sadar akan hal itu apa ga..
Long time setelah itu kami tak ada komunikasi lagi, hingga suatu hari ada sms masuk dari nomor tak dikenal. “Ah sepertinya Aku menganal nomor ini” ya itu nomor hape R. Dia nanyain kabar dan bla..bla.bla..
Semenjak saat itu terjalin lagi komunikasi di antara kami, meski sebenarnya Aku hanya berusaha menghormatinya saja dalam berkomunikasi. Dia curhat ini itu, oh tidak lama-lama benih rasa ini kembali berkecambah dan Aku takut kan tumbuh dan berkembang lagi.
Hari itu ntah hari apa di bilang baru putus sama pacarnya, hmmm... Dia tak tahu betapa sakitnya Aku sebagai orang yang Dia Curhatin.. di sisi lain terasa sakit namun di sisi lain begitu indah.. hahaha sadis.. benih cinta yang mulai berkecambah ini pun terasa diberi nutrisi dan air yang membuatnya tumbuh semakin subur dan berkembang dengan baik..
Tahun berganti tahun, tak terasa hubungan kami berjalan tanpa status. Sampai kemudian ada temanku nanyain sama Dia, “R kalian kok ga pacaran aja sih, udah cocok gitu?”
R menjawab “abis Dia (Aku yang dimaksud) ga nembak-nembak”.
Otomatis temanku laporan kalo R nunggu di tembak. Hari demi hari Aku kumpulkan kekuatan. Baru beberapa bulan yang lalu Aku ungkapin isi hatiku padanya. Alhasil Dia menggantungkan hubungan ini (kaya lagunya mely guslow). Katanya masih trauma sama mantannya dan belum mau punya status dulu. Walah jan.. salah apa ya cara nembaknya?
Namun intinya Dia menjelaskan nyaman kalo sama Aku, andaikan Dia kenal Aku duluan mungkin ga begini ceritanya kantanya. Yahhhh... okelah Aku terima. Kenapa? Karena Dia juga bilang sayang sama Aku, hanya saja belum mau pake status pacar-pacaran..
Bahagia hati ini rasanya sudah lega, karena Dia punya perasaan yang sama. Sudah mantap lah pokoknya. Sampai hari-hari dimana Dia mulai disibukkan dengan Skripsinya. Komunikasi pun sedikit berkurang. Namun masih tetep harmonis lah.
Yang buat Aku kurang nyaman adalah tiap kali Aku ajak makan, atau jalan ke mana gitu selalu menolak. Yah ga apa2 lah, lagi sibuk penelitian. Harapanku waktu itu “nanti ketika udah bulan puasa (sekarang) ya minimal mau tak ajak bukber berdua aja ke mana gitu, ya kaya temen-temen yang lain sama pasangannya. Namun sampai hari ini, puasa tinggal berapa hari lagi, belum pernah selaipun mau bukber di luar. Mulai sedih.. Aku pun berusaha dewasa lah tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Singkat cerita beberapa hari yang lalu Dia sudah deal mau buka puasa di luar tapi dengan syarat kalo Dia ga cape, soalnya Dia mau ujian skripsi pada hari itu. Wah udah gembira banget lah. Ahrinya jadi juga. Singkat cerita hari itu udah sore jam 3 an Aku nanya “jadi kan?” eh lama ga di bales sampe jam 4 an, hmmm mulai pesimis lagi.. Aku sms lagi baru dia bales “jangan ganggu dulu ya, lagi stress.. ok” Cuma itu..
Hmmm...bubar planing seharian.. hampir seminggu Aku ga sms Dia, ku pikir Dia bakal tanya kenapa? Gitu.. ehh ternyata tidak.. minggu ini judulnya minggu galau dalam hidupku..
Hibur diri lah, sekali-kali buka facebuk.. sesek nafas lagi, kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi, meski tidak sama persis. Di statusnya yang khas ala mahasiswa tingkat ahir, bukan statusnya yang jadi masalah, tapi komen yang ada di bawahnya. Mantanya komen-komenan sama R genit-genit gombal-gombal. Untung beda kota, kalo deket kayaknya ada pertempuran duel. Salah satu yang bikin neg, komen R “maksih ya udah mau tak marah2in hehe”..
Apa coba maksunya?
Adakah komunikasi diantara mereka? Ya pastinya ada. Mungkin salahku seminggu ini Aku tak pernah berkomunikasi dengannya. Jadi cari pelampiasan lain untuk mengurangi stresnya. Mungkin loh..
Bagaimanakah sebaiknya ini? Apakah Aku tegas-tegasan saja? Pilih mantannya atau Aku? Tapi takut gegeabah juga. Takut kehilangannya.. gimana sebaiknya?